Urgensi Revitalisasi Pendidikan Persis

Pendidikan Persatuan Islam
sejak awal perjalanannya telah banyak melahirkan tokoh-tokoh atau para ulama.
Dengan berbagai keterbatasan teknologi dan sarana prasarana sejak pertengahan
abad 20, kualitas lulusan-lulusannya begitu baik. Bahkan, lulusan-lulusan
Mu’allimin hingga era milenial, sebelum pemerintah banyak ikut campur pada
kebijakan Pendidikan tiap daerah, masih memiliki kualifikasi ulama dan umaro.
Mereka dapat menggali
ilmu-ilmu agama langsung dari sumber-sumbernya. ‘Kitab kuning’ bagi lulusan
mu’allimin tersebut telah menjadi makanan sehari-hari. Pribadi-pribadinya pun
terdidik secara kukuh. Jiwa lulusan mu’allimin adalah para da’i dan orang-orang
yang peduli terhadap urusan ummat. Mereka banyak berdinamika dengan konteks
sosio-politik yang terus berubah untuk tetap jalannya Pendidikan dan dakwah
Islam yang baik.
Namun hari ini tidak dipungkiri
kualitas Pendidikan menurun. Hal ini dapat dilihat dari standar dasarnya, yaitu
mata Pelajaran khas persis yang semakin lambat dikuasai oleh santrinya. Dewasa
ini banyak ditemukan permasalahan seperti santri pada tingkat tsanawiyah yang
masih belum baik dalam membaca al-Qur’an. Pada tingkatan yang seharusnya
diajari Tahsin ini, terpaksa para guru dan kurikulum di Pesantren Persis
mengajarkan Kembali dasar-dasar ilmu tajwid.
Pendidikan Membaca al-Qur’an yang baik
mesti telah selesai sebelum masa baligh mereka. Karena kemampuan ini akan
digunakan dalam melaksanakan kewajiban mukallaf seperti dalam shalat. Jika
telah masuk masa baligh, dan telah diwajibkan melaksanakan shalat, sementara
membaca al-Qur’an belum bisa, maka kualitas shalatnya belum baik. Sehingga
permasalahan keilmuan ini terus merambat hingga jenjang setelahnya.
Bukan saja dalam permasalahan membaca
al-Qur’an atau membaca huruf arab, namun juga dalam praktek Ibadah. Pesantren
Persis yang dilahirkan dari Rahim persis itu sendiri memastikan kurikulumnya
sesuai dengan karakter fiqih persis. Akan tetapi, hari ini masih banyak
lulusan-lulusan diniyah yang praktik pelaksanaan keagamaannya belum sesuai
dengan pengajaran Jam’iyyah. Dalam kekhasan lainnya pula, yaitu ilmu alat,
lulusan-lulusan mu’allimin belum mampu membaca kitab-kitab kuning, berbeda
dengan lulusan mu’allimin 5-10 tahun ke belakang. Artinya, telah terdapat
penurunan kualitas Pendidikan di Persatuan Islam.
Dari permasalahan tersebut, perlu
adanya revitalisasi Pendidikan dimulai dari jenjang yang paling awal, yaitu
Madrasah Diniyah. Bidgar Tarbiyah PP. Persis telah melakukan perubahan dan
penerbitan kurikulum madrasah Diniyah guna mengembalikan kualitas Pendidikan
persis. Kurikulum ini penting untuk diketahui oleh setiap madrasah agar
Pemikiran Pendidikan yang mulia ini secara cepat dapat terdistribusikan.
Karenanya, Tim Penguatan dan
Pengembangan Pendidikan (TPP-Pendidikan) mengadakan acara seminar kurikulum
madrasah diniyah yang disampaikan secara langsung oleh bidgar Tarbiyyah PP.
Persis. Mudah-mudahan ikhtiyar ini dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah guna
mewujudkan Pendidikan yang lebih baik di PD. Persis Kabupaten Tasikmalaya.
